Rabu, 06 Januari 2016

SALOI


SALOI merupakan sejenis bakul atau keranjang berbentuk seperti paludi, tetapi lebih kecil dan dianyam dari rotan dengan dua tali.
Seorang ibu dengan soloi sekembali dari kebun (foto : Ilwan)
Sebagian masyarakat mengayamnya dengan kulit bambu muda. Saloi merupakan istilah dalam bahasa Tidore dan dalam bahasa Ternate disebut dengan tibi. Namun demikian istilah saloi lebih akrab digunakan oleh masyarakat Ternate dan sebagian besar masyarakat halmahera. Saloi sering dibawah oleh kaum ibu setiap ke kebun, fungsinya sebagai tempat menaru bawaan hasil kebun seperti sayur mayur, buah-buahan, bahkan kayu bakar. Saloi dibawa dengan cara didukung di belakang seperti orang membawa ransel.

Minggu, 13 Desember 2015

RORANO

Daun Mayana, (Coleus scutellariodes Bent) salah satu tanaman yang dijadikan rorano
Rorano dalam istilah Ternate merupakan obat penawar yang dibuat dari tumbuhan tertentu. Rorano sudah ada sejak zaman dahulu dan pengetahuan rorano ini tetap dijaga sampai sekarang. Biasanya tanaman yang dijadikan rorano diketahui oleh orang yang ahli dalam pengobatan yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Bagian tanaman yang biasanya dimanfaatkan sebagai rorano adalah daun, akar dan kulit pohon. Tanaman yang diyakini dapat dijadikan rorano diambil  kemudian diracik dan diberikan kepada orang sakit. Pemberian obat ini baiasanya disertakan dengan jampi-jampi oleh orang yang membuat rorano. Penyakit yang dapat disembuhkan dengan rorano ini antara lain ambeyen, malaria, bisul, demam, bengkak, infeksi, kanker dan lain - lain.

Minggu, 05 April 2015

BATOBO


Batobo : Seorang anak sedang melompat dari areal halaman Masjid Raya Al Munawar. Foto by Ilwan
BATOBO merupakan sebutan oleh masyarakat Ternate dan sebagian besar daerah di Maluku Utara sebagai aktifitas berenang di air laut. Umumnya daerah air laut yang dipilih yang dangkal yang tidak membahayakan orang yang melakukan batobo, sekalipun ada beberapa orang yang melakukannya di laut yang dalam tergantung keahlian perenangnya. Batobo di kalangan masyarakat Ternate sudah menjadi budaya yang dilakukan secara turun temurun. Biasanya batobo dilakukan di waktu sore hari atau pada saat liburan. Lokasi favorit yang sering dijadikan masyarakat Ternate untuk batobo ini, diantaranya pantai Sulamadaha, Pantai Taduma, Pantai Kastela, areal laut disekitar Masjid Raya, Pantai Salero dan Pantai Falajwa I. Batobo merupakan budaya yang baik untk dilestarikan, mengingat selain hobi, kegiatan ini juga merupakan olahraga air yang berguna bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.

Senin, 29 Juli 2013

Masuknya Islam di Ternate

Al Qur'an bertulis tangan (dalam lemari), ditulis oleh AlfakihAl shalih (7 Dzulkaidah 1005H/1585 M)Foto oleh Nurmutadiah,siswi kelas VI SDIT Al Bina Ternate, saat berkunjung ke museum memorial Kesultanan Ternate,Maret 2006

Kapan Islam masuk Ternate,belum ada bukti tertulis (tugu,prasasti,dsb), yang menjelaskannya. Para sejarawan hanya merujuk pada tulisan - tulisan history beberapa penulis lokal maupun asing,terutama Portugis. Perhatian para sejarawan tertuju pada tulisan tentang pelantikan Sultan Zainal Abidin pada tahun 1486. Tahun ini, disebut-sebut sebagai tahun dimulainya Islamisasi di Ternate khususnya, dan Maluku pada umumnya. Alasannya karena, ketika dilantik sebagai Raja Ternate, gelar yang digunakan oleh Zainal Abidin adalah Sultan, dimana sebelumnya para Raja Ternate menggunakan gelar Kolano selama pemerintahan mereka. Sultan, merupakan gelar yang disandang oleh seorang pemimpin negara yang sistem pemerintahannya bersifat Islami. Namun demikian, patut disimak tulisan - tulisan dari beberapa penulis asing berikut ini ;
Thome Pires, seorang ahli farmasi Portugis yang tiba di Malaka tahun 1512,menyatakan bahwa menurut orang - orang Maluku, yaitu para pedagang Ambon dan Banda yang diwawancarainya mengatakan Islam telah masuk di Maluku sejak 50 tahun yang lalu. Jika informasi ini benar, maka Islam masuk ke Maluku sekitar tahun 1459-1460, mengingat wawancara yang dilakukan Thome Pires pada tahun itu juga,yakni 1512..
De Clerq, melaporkan bahwa pada tahun 1334 dan 1372 telah naik tahta di Tidore dua kolano, masing - masing Nurudin dan Hasan Syah. Sekalipun keduanya sekalipun tidak menggunaka gelar Sultan, namun gelar Syah di belakang nama - masing - masing raja itu, membuktikan jika kedua Raja itu adalah seorang muslim. Syah merupakan gelar Raja yang digunakan pada kerajaan Islam Persia, gelar semacam digunakan pula diberbagai daerah kesultanan di Nusantara. Apabila asumsi ini benar, maka dapat disimpulkan Islam masuk ke Tidore sejak 1372. Mengingat letak geografis Tidore dan Ternate saling berdekatan, maka bisa dipastikan ajaran Islam telah membidudaya juga di Ternate.
Naidah, seorang hukum)* soasio Kesultanan Ternate, menulis dalam sejarah Ternate, bahwa dibawah pemerintahan Cico, agama Islam belum kuat di Ternate, itulah sebabnya Zainal Abidin pergi ke Jawa untuk mempelajari Islam secara langsung dari Sunan Giri yang terkenal,ketika kembali ke Ternate, Zainal Abidin memboyong beberapa ulama dari Jawa untuk mengajar Islam di Ternate. Cico merupakan Raja Ternate yang berkuasa sekitar 1432 - 1465. Jika pada masa Cico, Islam belum kuat, sebagaimana ditulis Nadiah, maka besar kemungkinan Islam sudah eksis di Ternate, pada masa pemerintahan Cico, bisa juga dipastikan sebelum Cico, namun secara struktur kepemerintahan, sosio politik, Islam belum nampak ketika itu. Perkembangan Islam selanjutnya lebih sangat berarti lagi ketika Sultan Zainal Abidin berkuasa pada tahun 1486 - 1500. Perkembangan semakin pesat dan tertanam betul nilai - nilai keislaman, ketika Bayanullah pengganti sultan Zainal Abidin berkuasa antara 1500 - 1522. Bayanullah mewajibkan para kaum lelaki maupun perempuan memakai pakaian Islami, dan kebijakan beliau yang lainnya adalah memberlakukan perkawinan secara Islami.
Penyebaran Islam di Ternate juga tidak bisa dipisahkan dari peran seorang ulama dan mubaligh terkenal Datu Maula Husen. Beliau tiba di Ternate pada 1465. Berbekal ilmu agama yang mumpuni dan sebagai seorang pakar tilawah dengan suaranya yang merdu, beliau menyebarkan ajaran - ajaran Islam di Ternate dan efektif mengena di masyarakat Ternate.



*) Hukum : Magistrat,fungsionaris yang memegang posisi antara pemerintah kerajaan dan pemimpin
                    komunitas, hakim


 
Sumber : M Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah perjalanan sejarah Maluku Utara 1250-1950,Kepustakaan Populer Gramedia,2010

Selasa, 25 Juni 2013

Mengenal Desa Foramadiahi

Salah satu sudut perkampungan Foramadiahi,Foto oleh Ilwan
Desa Foramadiahi sudah mulai eksis sekitar tahun 1254. Foramadiahi disebut-sebut ahli sejarah sebagai perkampungan tertua di Ternate,keberadaan pemukiman ini ditandai dengan masuknya masyarakat yang berasal dari Jailolo yang melarikan diri dari kerajaan Jailolo ketika itu disebabkan oleh situasi politik lokal yang melibatkan sang Raja dengan rival kelompok-kelompok politik lokal. Mereka memilih mendiami daerah puncak jauh dari laut,agar tidak terjangkau oleh kejaran pasukan Raja Jailolo ketika itu. Pendapat lain mengatakan masyarakat yang mendiami perkampungan Foramadiahi berasal dari Tidore.
Menurut cerita dari beberapa orang tua,penamaan Foramadiahi bermula dari pembangunan kedaton (istana Raja). Kedaton pertama kali dibangun di perkampungan Foramadiahi,namun pembangunan kedaton belum definitive. Kedaton kemudian berpindah lokasi,mengingat desa Foramadiahi,berada di ketinggian dan tidak terdapat sumber air. Lokasi yang dipilih selanjutnya adalah Limau Jore-Jore1,beberapa informan local menyebut tempat kedua adalah di daerah Ngade, kemudian yang terakhir adalah di Limau Soki-Soki di atas ketinggian bukit Bukukaimaja di dekat sebuah sumber air yang bernama ake sentosa. Pemilihan tempat yang terakhir ini dirasa cocok dan dipastikan pembangunan kedaton secara definitive. Oleh karena itu, orang – orang yang menemukan lokasi ini mengirim kabar ke tempat atau lokasi yang pertama tadi dengan mengatakan fo waro ma diahi (lokasinya sudah tahu pasti). Kalimat ini kemudian secara turun temurun dibahasakan oleh masyarakat setempat dengan sebutan Foramadiahi.
Kini Foramadiahi masuk dalam kecamatan Pulau Ternate, didiami oleh sebagian kecil penduduk, bermata pencaharian umumnya petani. Untuk mencapai desa ini, diperlukan pengendara yang berpengalaman, karena akses jalan menuju desa ini sangat menanjak, semakin ke ujung desa, jalannya semakin menanjak. Di Desa ini juga terdapat makam Sultan Babullah, Sultan Ternate yang ke – 8, hidup pada tahun 1570 – 1583.
 

1.  Limau Jore-Jore merupakan nama sebuah Kampung besar yang meliputi soasio,Kasturian dan Salero sekarang. Kata Limau sendiri termasuk bahasa asli Ternate yang berarti negeri,kota atau kampung besar. Saat ini, kata Limau jarang digunakan, diganti dengan kata gam

Mengenal Desa Foramadiahi

Salah satu sudut perkampungan Foramadiahi,Foto oleh Ilwan
Desa Foramadiahi sudah mulai eksis sekitar tahun 1254. Foramadiahi disebut-sebut ahli sejarah sebagai perkampungan tertua di Ternate,keberadaan pemukiman ini ditandai dengan masuknya masyarakat yang berasal dari Jailolo yang melarikan diri dari kerajaan Jailolo ketika itu disebabkan oleh situasi politik lokal yang melibatkan sang Raja dengan rival kelompok-kelompok politik lokal. Mereka memilih mendiami daerah puncak jauh dari laut,agar tidak terjangkau oleh kejaran pasukan Raja Jailolo ketika itu. Pendapat lain mengatakan masyarakat yang mendiami perkampungan Foramadiahi berasal dari Tidore.
Menurut cerita dari beberapa orang tua,penamaan Foramadiahi bermula dari pembangunan kedaton (istana Raja). Kedaton pertama kali dibangun di perkampungan Foramadiahi,namun pembangunan kedaton belum definitive. Kedaton kemudian berpindah lokasi,mengingat desa Foramadiahi,berada di ketinggian dan tidak terdapat sumber air. Lokasi yang dipilih selanjutnya adalah Limau Jore-Jore1,beberapa informan local menyebut tempat kedua adalah di daerah Ngade, kemudian yang terakhir adalah di Limau Soki-Soki di atas ketinggian bukit Bukukaimaja di dekat sebuah sumber air yang bernama ake sentosa. Pemilihan tempat yang terakhir ini dirasa cocok dan dipastikan pembangunan kedaton secara definitive. Oleh karena itu, orang – orang yang menemukan lokasi ini mengirim kabar ke tempat atau lokasi yang pertama tadi dengan mengatakan fo waro ma diahi (lokasinya sudah tahu pasti). Kalimat ini kemudian secara turun temurun dibahasakan oleh masyarakat setempat dengan sebutan Foramadiahi.
Kini Foramadiahi masuk dalam kecamatan Pulau Ternate, didiami oleh sebagian kecil penduduk, bermata pencaharian umumnya petani. Untuk mencapai desa ini, diperlukan pengendara yang berpengalaman, karena akses jalan menuju desa ini sangat menanjak, semakin ke ujung desa, jalannya semakin menanjak. Di Desa ini juga terdapat makam Sultan Babullah, Sultan Ternate yang ke – 8, hidup pada tahun 1570 – 1583.
 

1.  Limau Jore-Jore merupakan nama sebuah Kampung besar yang meliputi soasio,Kasturian dan Salero sekarang. Kata Limau sendiri termasuk bahasa asli Ternate yang berarti negeri,kota atau kampung besar. Saat ini, kata Limau jarang digunakan, diganti dengan kata gam

Minggu, 02 Juni 2013

Benteng Kastela

Sisa reruntuhan Benteng Kastela,(Foto by : Ilwan)
Benteng Kastela atau dikenal dengan nama Benteng Gamlamo,atau dalam bahasa Portugis dinamakan Nostra del Rosario ini terletak di Desa Kastela, kecamatan Pulau Ternate. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1522 oleh Antonio de Brito. Pembangunan benteng ini dimulai dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun.Pembangunan bertahap dilakukan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525, kemudian Gonzalo Pereira pada tahun 1530, dan terakhir dilanujtkan oleh Jorge de Catro pada tahun 1540. Benteng ini pernah direbut oleh Sultan Babullah dan melakukan pengepungan selama 3 tahun,kemudian mengusir Portugis selama-lamanya dari bumi Ternate.Sultan Babullah kemudian mengambil alih benteng ini dan menjadikan sebagai pusat pemerintahan dan dipertahankan selama 30 tahun. Di benteng ini pula terjadi pembunuhan Sultan Khairun, ayah dari Sultan Babullah,yang dilakukan secara licik dan pengecut oleh Antonio pimental,saat sang Sultan menghadiri jamuan makan malam oleh pihak Portugis. Bentuk benteng ini persegi empat dengan luas 2.724 neter persegi,tersusun dari batu gunung dan batu kapur. Dengan luas seperti ini,maka benteng ini tercatat yang paling luas di Ternate, bahkan Maluku Utara, yang pernah dibangun penajajah asing. Bagian - bagian benteng yang masih dapat diidentifikasi adalah bastion dan menaranya saja, sisanya berupa reruntuhan. Konon disekeliling benteng ini dibangun parit, hanya saja parit tersebut sudah kering dan tidak terlihat lagi. Untuk mencapai benteng ini diperlukan waktu  kurang  lebih 30 menit dengan mengenderai kendaraan roda dua maupun empat.



Rabu, 15 Mei 2013

Mengenal kampung Jerbus

Lingkungan Jerbus (Foto by :Ilwan)
Jerbus merupakan nama sebuah lingkungan di kelurahan Tanah Tinggi Barat Ternate Selatan. Jerbus merupakan akronim dari Jere Busua. Dalam bahasa Ternate, Jere berarti tempat yang dikramatkan, biasanya berupa kuburan tua yang telah ada dari zaman dulu.Sedangkan Busua adalah nama pohon dan buahnya atau gayam (Inocarpus edulis Forst). Disebut jere busua, karena di tempat ini terdapat kuburan tua yang terletak di barangka (kali mati) berdekatan dengan sebuah pohon busua yang besar, seakan - akan pohon busua ini menaungi kuburan ini. Sekarang pohon busua ini telah roboh. Menurut bapak Salmudin Bilmona,salah satu tokoh masyarakat, penamaan Jerebusua ini dimulai sekitar tahun 2003, oleh mantan Lurah Tanah Tinggi, Bpk Hi. senen. Masyarakat yang tinggal di lingkungan jerbus ini umumnya berasal dari sanana, Tidore dan lain-lain di luar Ternate. Mata pencaharian masyarakat umumnya PNS. Jerbus masuk di kelurahan Tanah Tinggi Barat Ternate selatan. Tata letak lingkungan jerbus ini mengikuti alur jalan raya memanjang ke arah barat dan mendaki, diapit oleh dua barangka sebelah utara dan selatannya.

BALOBE

Nyao Uhi (ikan beronang), salah satu hasil
tangkapan dari kegiatan balobe
Lobe dalam bahasa ternate artinya menerangi dengan suluh, lampu atau obor. Kata lobe ditambahkan dengan awalan  ba di depannya  menjadi balobe berarti sedang melakukan, menerangi. Namun demikian kata balobe merupakan istilah umum bagi masyarakat Ternate untuk melakukan pencarian atau penangkapan ikan  atau hasil laut lainnya di malam hari. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat bulan purnama dan surut terendah. Tidak seperti memancing, balobe dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri sepanjang daerah intertidal yang airnya tidak terlalu dalam. Alat yang digunakan terdiri dari lampu petromax atau obor, isi kelapa tua dan kalawai (tombak yang terbuat dari bamboo kecil, di ujungnya mata tombak terbuat dari besi bercabang dua atau tiga), keranjang, soloso (tali yang terbuat dari kulit anakan bambu). Kegiatan ini dilakukan 2 orang atau lebih, ada pula yang melakukannya sendiri. Hasil tangkapan dari balobe ini biasanya terdiri dari ikan uhi (beronang,siganus spp), rajungan, bia (kerang laut), gurita,siroa ( bulu babi dari jenis Echinometra mathaei) dan lain sebagainya. Hasil tangkapan berupa bia,rajungan siroa,gurita diletakan di keranjang, sedangkan tangkapan berupa ikan di ikatkan pada soloso,caranya soloso dimasukan ke katup insang ikan kemudian disimpulkan pada ikan pertama, kemudian ikan kedua dan seterusnya dimasukan lagi soloso lewat katup insang,namun tidak disimpulkan, begitu seterusnya. Kegiatan ini berakhir pada waktu subuh atau matahari telah terbit. Hasil dari balobe ini kemudian di konsumsi oleh anggota keluarga, atau dijual jika hasil tangkapannya banyak.

Senin, 13 Mei 2013

Mengenal desa Fitu

Pantai Fitu,Tahun 1992.Foto oleh Ilwan
Desa Fitu terletak di kecamatan Ternate Selatan. Desa ini dapat dicapai dengan akses jalan darat (kendaraan roda dua, maupun roda empat). Butuh waktu kurang lebih 25 menit dari pusat kota untuk mencapai desa tersebut. Warga yang mendiami desa ini sebagian besar dari suku Ternate asli, sebagiannya dari Tidore dan makian. Seiring dengan perkembangan pada pemerintahan Kota Ternate, desa ini kemudian dimekarkan menjadi kelurahan. Tata letak desa ini mengikuti alur jalan raya dan tidak jauh dari pantai. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar adalah tani dan nelayan, sebagiannya lagi PNS, TNI dan Polisi. Desa ini berbatasan dengan dengan desa ngade di sebelah Timur dan Gambesi di sebebalah barat.

Minggu, 05 Mei 2013

Cari Bia

Bia Raga (Lambis-lambis), salah satu jenis
kerang laut yang ditemukan para pencari bia
Cari bia adalah aktifitas mencari atau mengumpulkan kerang - kerang untuk dikonsumsi, sebagai pengganti menu ikan atau daging. Umumnya kerang yang dicari adalah kerang laut, meskipun sebagian masyarakat Ternate khususnya dan Halmahera umumnya menyukai kerang bakau. Kegiatan mencari bia ini dilakukan ketika air laut mulai surut. Kerang laut yang masuk dalam kelas gastropoda ini menyukai perairan dangkal di disekitar daerah intertidal,didominasi oleh terumbu karang dan sebagian lagi di padang lamun. Ketika air surut biasanya sebagian daerah intertidal menyembul ke permukaan air membentang memanjang. Masyarakat Ternate khususnya dan sebagian besar daerah di Maluku Utara menyebut daerah ini dengan nyare. Apabila nyare sudah kelihatan maka aktifitas mencari biapun dilakukan. Kerang atau bia yang sering didapat diantaranya bia tolu (lola), bia raga (Lambis-Lambis),bia tamako (kima), dan lain sebagainya. Umumnya yang lihai dalam perkerjaan yang satu ini adalah kaum ibu - ibu.

AHA

AHA yang sudah ditanami pandan dan kebun pisang
Lokasi : Desa Fitu Ternate (Foto by : Ilwan)

AHA merupakan sebutan untuk sebuah areal yang ditumbuhi tanaman pohon sagu (Metroxylon sp), dapat juga disebut dusun sagu. Areal ini terletak di dekat pantai sedikit masuk ke daratan, tanahnya basah senantiasa digenangi air sedikit, banyak kalau di laut terjadi pasang besar. Tanaman pohon sagu dibiarkan untuk tumbuh subur, kelak menjadi sumber makanan bagi penduduk setempat yang desanya berdekatan dengan AHA. Dengan demikian masyarakat yang tinggal dekat dengan AHA biasanya memproduksi sagu tumang (bahan baku pembuat popeda),penyebutan ini bagi masyarakat Ternate untuk membedakan popeda yang terbuat dari pohon sagu dan popeda yang terbuat daru kasbi (singkong). Proses awal pembuatan sagu tumang ini disebut dengan bahalo. Mulanya pohon sagu ditebang, kemudian dibelah batang pohonnya,setelah terbelah, barulah dilakukan bahalo. Biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh dua orang atau lebih. Alat yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, atau bambu dibuat sedemikian rupa mirip pacul, dan gerakan orang yang melakukan bahalo ini seperti gerakan memacul.Proses selanjutnya adalah penyaringan sari dari umbi batang dari pohon sagu ini dengan air dan didiamkan selama beberapa hari, sampai sari umbi batang ini mengendap. Pada tahap ini sagu tumang sudah siap untuk diproduksi.
Saat ini kondisi AHA sudah tidak asli lagi. Jumlah pohon sagu sudah berkurang, dikarenakan tidak ada upaya pembudidayaan pohon sagu ini. Masyarakat di sekitar AHA sudah beralih bertani kangkung jalar dan pondak (pandan),sebagian lagi berkebun pisang disekitar areal AHA. Kondisi AHA ini dapat ditemukan di desa Fitu dan Gambesi (sekarang status kedua desa ini sudah kelurahan)

Jumat, 03 Mei 2013

Kolano Palembang

Makam Sultan Mahmud Badaruddin II, di Pekuburan Islam
Kampung Makassar Ternate (Foto Oleh Ilwan)



Kolano Palembang merupakan sebutan untuk Sultan Palembang, yakni Sultan Mahmud Badaruddin II.Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pemimpin Kesultanan Palembang Darussalam dalam 2 periode (1803 - 1813 dan 1818 - 1821). Nama aslinya sebelum menjadi Sultan adalah Raden Hasan Pangeran Ratu.
Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya yang disebut Perang Menteng. Pada tanggal 14 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate. Beliau tiba di Ternate pada tahun 1822. Wafat di Ternate pada tanggal 26 November 1852, menurut wikipedia, beliau wafat pada tanggal 26 September 1852.


Selasa, 31 Juli 2012

Makan Saro

  Prosesi Makan Saro disebuah upacara perkawinan di Kel.Fitu
Makan Saro merupakan salah satu dari rangkaian upacara perkawinan adat Ternate.Bentuk dari Upacara ini adalah makan bersama untuk pertama kali bagi kedua pengantin, yang dihadiri oleh kaum ibu dari kedua bela pihak keluarga pengantin laki - laki dan pengantin wanita. Kedua Pengantin duduk di kepala meja panjang dan di sisi kanan kiri meja duduk para kaum ibu pihak pengantin pria dan wanita. Para ibu - ibu ini disebut dengan yaya se goa (ibu dan saudara perempuan dari bapak). Di atas meja sudah disajikan berbagai jenis makanan, seperti ketupat dari berbagai bentuk, nasi kuning dan telur, dan buah-buahan yang dirangkaikan.Makanan - makanan tersebut secara bergantian diayun -ayunkan oleh para ibu di hadapan pengantin dengan mengucapkan kata saro-saro

Rabu, 25 Juli 2012

Pantai Sulamadaha





Salah satu sudut pantai Sulamadaha
Pantai Sulamadaha mabuerupakan salah satu lokasi rekreasi yang sangat diminati pengunjung. Lokasi ini terletak di desa Sulamadaha, kecamatan Pulau Ternate. Lokasi ini bisa dicapai dengan kendaraan roda dua maupn roda empat dengan waktu  kurang dari 1 jam dari pusat kota. Eksotik mungkin kesan yang didapat ketika berkunjung di pantai. Pemandangan alami disajikan di pantai ini membuat lokasi ini sangat nyaman dikunjungi dan pengunjung bisa menikmati suasana alam pantai. Di sekitar pantai para penjual menjajaki berbagai makanan ringan, seperti pisang goreng dan dabu-dabu khas Ternate,tak lupa kelapa muda yang tentunya sangat diburu oleh pengunjung. Tak jauh dari lokasi pantai, terdapat areal air laut yang menjorok sedikit ke pantai diapit oleh dua tanjung, sehingga airnya tenang tak berombak. Para pengunjung dapat berenang dan snorkling di sini. di lokasi ini juga disewakan perahu bagi para pengunjung dengan tarif Rp.20.000 per perahu selama sejam.

Minggu, 15 Juli 2012

Batu Angus

Salah satu sudut batu angus, Foto by : Ilwan
Batu Angus merupakan sebutan oleh masyarakat Ternate, menyebut sebuah lokasi yang didominasi oleh bebatuan hitam yang melebar kurang lebih 1 km. Menurut ahli geologi bebatuan yang terletak disekitar wilayah desa Tarau dan Kulaba ini merupakan  arus lava dari gunung berapi yang membatu akibat letusan gunung Gamalama di tahun 1737. Arealnya memanjang dari puncak gunung hingga ke laut memberi panorama tersendiri bagi para pengunjung. Uniknya di sekitar lokasi ini banyak tumbuh tumbuhan pata tulang. Pengunjung biasanya menyempatkan diri untuk mengambil gambar bersama keluarga. Sewaktu penjajahan Jepang, Jepang pernah membangun sebuah prasasti di sekitar batun angus, namun sudah dihancurkan oleh masyarakat setempat karena didorong oleh perasaan benci kepada penjajah Jepang.

Senin, 02 Juli 2012

Gunung Gamalama Ternate

Gunung Gamalama. Foto by : Ilwan
Gunung Gamalama Ternate merupakan gunung api aktif. Terakhir meletus pada 16 Mei 2012. Menurut data, gunung Gamalama mengalami letusan beberapa kali, yaitu pada tahun 1840, 1980, 1983, 1994, 2011 dan terkahir Mei 2012.Berdasarkan informasi wikipedia, Gunung Gamalama termasuk sebuah gunung stratovolcano kerucut yang mancakup seluruh pulau Ternate. Gunung Gamalama memiliki ketinggian 1715 m di atas permukaan laut, ditutupi oleh hutan montane di ketinggian 1200 - 1500 m dan hutan ericaceous pada ketinggian di atas 1500 m. 
Para pendaki yang melakukan pendakian membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam untuk sampai ke puncak, yang dapat ditempuh melalui beberapa jalur, yakni melaui desa Togafo, desa Moya maupun Marikurubu. Namun jalur yang sering dilalui para pendaki adalah jalur Marikurubu. Pendakian dipandu oleh pemandu lokal yang tentunya berpengalaman, karena memang pendakian dimulai pada waktu subuh.

Ron Gunung

Salah satu sudut pemukiman di Ternate. Foto by : Ilwan
Ron Gunung merupakan istilah yang digunakan untuk melakukan aktivitas keliling Pulau Ternate.Pemukiman Ternate yang berada di kaki gunung Gamalama mengikuti alur melingkar, mengelilingi Gunung Gamalama,dengan demikian akses jalanpun mengikuti alur tersebut membentuk lingkaran penuh. Itulah sebabnya masyarakat Ternate menyebut dengan istilah Ron Gunung (keliling Gunung). Ron Gunung biasanya dilakukan masyarakat Ternate,maupun di luar Ternate yang kebetulan berkunjung ke Ternate, sebagai bentuk rekreasi, dan dilakukan tiap hari Ahad maupun di hari libur. Jalur yang ditempuh dimulai dari arah utara, atau berlawanan arah jarum jam. Perjalanan ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam, menggunakan kendaraan roda empat, atau roda dua. Jarak tempuh hanya mencapai 40 - 45 km. Selama perjalanan, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam khas Ternate, maupun situs - situs sejarah, di antaranya Pantai Sulamadaha, batu angus, danau Tolire, benteng Toloko, dan lain sebagainya.

Selasa, 05 Juni 2012

Lambang Daerah Kota Ternate

Logo Kota Ternate
Berdasarkan PERDA Kota Ternate No.01 Tahun 2000 (Pasal 1, butir c) tentang Lambang Daerah Kota Ternate, penjelasannya sebagai berikut ;
  • Tulisan MAKU GAWENE bermakna saling mengingatkan, cinta kasih sayang sesama manusia dan antara  manusia dengan seluruh ciptaan Tuhan di muka bumi
  • Bentuk lambang dasar adalah perisai bersudut tiga mencerminkan karakteristik fungsi dan peran kota Ternate sebagai Kota Budaya, kota perdagangan, kota pariwisata dan kota Pulau
  • Bentuk bintang di puncak lambang daerah menggambarkan religius ketaqwaan dan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  • Bidang berbentuk lingkaran di tengah dasar lambang merupakan ungkapan rasa persaudaraan dan persahabatn sesama manusia di muka bumi.
  • Di dalam lambang terdapat linkaran cengkih di sisi kanan dan buah pala di sisi kiri serta ikan pari di tengah yang dirangkai oelh daun cengkih dan daun pala.
  • Buah pala yang berjumlah 4 buah merupakan perlambangan dari bulan April, dimana pada bulan tersebut Kota Ternate diresmikan menjadi satu daerah otonom.
  • Bunga cengkih yang berjumlah 27 merupakan perlambangan dari tanggal diresmikannya kota Ternate.
  • Daun cengkih dan pala yang berjumlah 5 helai menggambarkan bahwa kota Ternate terdiri dari 5 buah Pulau yaitu ; Pulau Ternate, Pulau Hiri, Pulau Moti, Pulau Mayau dan Pulau Tifure.
  • Gerak ikan pari yang dinamis dengan badannya melebar terbuka mengungkapkan daerah kota Ternate yang terus berkembang.
  • Lambang daerah memantulkan jalinan warna yang serasi dengan makna unsur-unsurnta sebagai berikut 
  • Biru,ungkapan kecermelangan, keteguhan dan kesabaran
  • Kuning berarti kemakmu dan kesejahteraan
  • Coklat berarti tegas penuh tanggung jawab
  • Hijau mengungkapkan kesuburan, kedamaian dan religius.
  • Putih berarti berisi ungkapan kesucian, keikhlasan da kerelaan.
  • Hitam berarti kewaspadaan, kekuatan,kepastian, kedisiplinan dan ketegasan